B.
Pengertian dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi
1. Pengertian Persepsi
Persepsi merupakan suatu hal yang penting dalam melihat citra dan
reputasi suatu perusahaan atau sebuah lembaga. Citra tersebut dihasilkan atau
dibentuk dari komunikasi pemasaran yang efektif dan strategik. Sedangkan
kualitas citra tersebut tergantung pada reputasi yang disandang oleh perusahaan
atau lembaga yang bersangkutan.
Terujinya kualitas suatu citra tidak terlepas dari beberapa faktor
seperti usia, pengalaman, konsistensi, makna, dan lingkungan makro/eksternal. Untuk
lebih mendalami hal-hal tersebut, maka dibutuhkan suatu kajian teori yang dapat
memberikan pengertian dan wawasan akademis yang lebih mendalam. Kajian teori
ini yang nantinya akan menjadikan dasar-dasar bagi peneliti dalam mengembangkan tulisan dari hasil penelitian yang dilakukan, baik untuk menganalisanya maupun dalam membuat kesimpulan dan rekomendasi.
Pengertian
persepsi banyak sekali yang dikemukakan oleh para Ahli, namun yang jelas setiap
ahli memberikan pengertian ini dipengaruhi oleh persepsinya sendiri. Menurut Bimo,[1]
persepsi adalah dimana seorang individu memberikan
arti kepada lingkungan, yang merupakan
proses seorang individu untuk memahami objek tertentu yang
diawali dengan timbulnya ransangan dari objek tertentu yang diterima oleh alat
indra individu dan kemudian diteruskan ke otak sehingga individu tersebut dapat
memahami objek yang diterimanya. Persepsi bersifat subjektif karena melibatkan
aspek psikologis yaitu proses kognitif sehingga apa yang ada dalam pikiran
individu akan ikut aktif dalam menentukan persepsi individu.
Ada empat
jenis hubungan antara individu dan lingkungannya. Individu dapat
bertentangan dengan lingkungannya, individu dapat mengikuti lingkungannya,
individu dapat berpartisipasi (ikut serta) dengan lingkungannya, dan individu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.[2]
Sejak itu pula ia menerima langsung stimuli atau rangsangan dari luar dirinya.
Sejalan dengan
perjalanan waktu, berkembang pula kemampuan individu untuk mengenali stimulus,
yang berarti berkembang pula kemampuan untuk mempersepsi stimulus yang datang
kepadanya. Stimulus mengenai individu itu kemudian diorganisasikan
dan diinterpretasikan, sehingga individu menyadari tentang apa yang
diinderanya itu. Proses inilah yang disebut dengan persepsi. Dengan demikian,
persepsi tidak dapat lepas dari proses penginderaan yang merupakan awal
terjadinya persepsi. Stephen Robbins mengemukakan bahwa persepsi dapat
didefinisikan sebagai suatu proses di mana individu-individu mengorganisasikan
dan menafsirkan kesan indera mereka agar memberi makna kepada lingkungan
mereka.[3]
Menurut Kotler, persepsi adalah proses yang digunakan seorang
individu untuk memilih, mengelola dan menafsirkan suatu input informasi untuk
menciptakan suatu gambaran yang memiliki arti. Persepsi ini tidak hanya
bergantung pada rangsangan fisik tetapi juga pada rangsangan yang berhubungan
dengan lingkungan sekitar dan keadaan individu yang bersangkutan.[4] Ketiga poin inilah
yang menjadi elemen dasar terjadinya sebuah persepsi.
Dalam melakukan kegiatan pemilihan suatu produk, konsumen
seringkali memilihnya berdasarkan pada persepsi mereka. Langkah ini mereka
lakukan adalah dalam rangka menyederhanakan proses pemilihan tersebut. Persepsi
konsumen terhadap suatu produk atau jasa memegang peranan penting dalam
pengambilan keputusan untuk membeli sebuah produk atau memanfaatkan suatu jasa.
Ketika seorang konsumen merasa sangat puas terhadap suatu produk atau layanan
jasa, maka perilaku membeli produk atau menggunakan jasa tersebut mungkin akan
terjadi lagi.[5]
Little Graham mengemukakan bahwa untuk memahami persepsi
ada pertanyaan fundamental yang perlu diperhatikan yaitu:[6]
- Bagaimana realitas eksternal mempengaruhi manusia?
- Apa langkah-langkah di dalam pengaruh tersebut?
- Bagaimana pengaruh tersebut dapat menjadi konsepsi?
Dari pertanyaan-pertanyaan dan definisi-definisi yang telah
disebutkan di atas, maka persepsi dapat dipahami sebagai suatu proses dari
manusia untuk memahami lingkungan sekitarnya. Karena persepsi merupakan proses
yang sangat subyektif dan selektif, maka bisa saja masing-masing orang melihat
suatu obyek yang sama namun diinterpretasikan secara berbeda. Hal ini
tergantung pada kebutuhan masing-masing individu, nilai-nilai obyek yang
dipersepsi, dan pengalaman masing-masing.[7]
2. Proses Perseptual
Seleksi perseptual terjadi ketika konsumen menangkap
dan memilih stimulus berdasarkan pada psikologis set yang dimiliki. Psikologis
set yaitu berbagai informasi yang ada dalam memori konsumen. Sebelum seleksi
persepsi terjadi, terlebih dahulu stimulus harus mendapat perhatian dari konsumen.
Oleh karena itu, dua proses yang termasuk ke dalam definisi seleksi adalah
perhatian (attention) dan persepsi selektif (selective perception).[8]
Gambar 2. 1
Skema Proses Perseptual
![]() |
Sumber: Michael
R.Solomon, Consumer Behavior,1996.
Perhatian yang dilakukan oleh konsumen dapat terjadi secara
sengaja atau tidak sengaja. Perhatian yang dilakukan secara sengaja adalah
disebut juga sebagai voluntary attention, yaitu terjadi ketika konsumen
secara aktif mencari informasi yang mempunyai relevansi pribadi. Persepsi
selektif terjadi ketika konsumen melakukan voluntary attention. Ketika
konsumen mempunyai keterlibatan yang tinggi terhadap suatu produk, maka pada saat
itu konsumen bisa disebut melakukan proses perhatian selektif (selective
attention).
Proses perhatian selektif terjadi karena dengan
mempunyai keterlibatan yang tinggi terhadap suatu merek produk, berarti
konsumen telah secara aktif mencari informasi mengenai produk itu dari berbagai
sumber. Dengan demikian, perhatian selektif hanya terjadi pada produk-produk
yang dikonsumsi berdasarkan keterlibatan yang tinggi.
Selain konsumen melakukan perhatian secara sengaja,
konsumen juga melakukan perhatian secara tidak sengaja (involuntary attention).
Involuntary attention terjadi ketika dipaparkan kepada konsumen sesuatu
yang menarik, mengejutkan, menantang atau sesuatu yang tidak diperkirakan, yang
tidak ada relevansinya dengan tujuan atau kepentingan konsumen. Stimuli dengan
ciri- ciri di atas secara otomatis akan mendapat tanggapan konsumen.
Perhatian dari konsumen, baik yang berupa voluntary
attention maupun yang berupa involuntary attention, kedua-duanya
memerlukan alokasi kapasitas kognitif dari konsumen terhadap stimulus tertentu.
Tanpa hal tersebut, maka proses yang terjadi hanya terhenti pada perhatian
saja. Karenanya, proses perseptual juga perlu menginterpretasi stimulus. Inilah
yang dikenal dengan istilah perceptual encoding. Proses ini terdiri dari
dua tahap utama, yaitu:[9]
a.
Feature
analysis, merupakan tahap awal di mana penerima pesan melihat
ciri dasar (basic feature) dari stimulus (seperti ukuran, bentuk, warna,
dan angle).
b.
Active
analysis, tidak hanya melakukan “pemeriksaan” terhadap
ciri-ciri fisik. Konteks atau situasi di mana informasi diterima mempunyai
peran penting dalam menentukan apa yang diterima dan diinterpretasikan, atau
dengan kata lain, dalam menentukan arti apa yang diperoleh. Interpretasi
dihasilkan dari usaha mengkombinasikan ciri-ciri stimulus dengan ekspektasi
yang semestinya sesuai dengan konteks yang diinginkan.
Pemahaman konsumen mengenai stimulus pemasaran ditentukan oleh feature
dari stimulus serta karakteristik konsumen itu sendiri. Ekspektasi,
kebutuhan, sifat, pengalaman masa lalu, dan sikap terhadap obyek stimulus,
seluruhnya memainkan peran penting dalam menentukan persepsi konsumen.
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi
Perkembangan
persepsi dipengaruhi oleh berbagai faktor stimulus itu sendiri dan faktor
lingkungan dimana persepsi itu
berlangsung. Stimulus dan lingkungan sebagai faktor eksternal dan
individu sebagai faktor internal saling berintegrasi dalam individu mengadakan
persepsi.[10]
Agar stimulus dapat dipersepsikan, maka stimulus harus
kuat sehingga dapat dipersepsikan oleh individu. Kejelasan stimulus banyak
berpengaruh dalam persepsi. Bila stimulus berwujud benda bukan manusia, maka
ketetapan persepsi lebih terletak pada individu yang mengadakn persepsi, akrena
benda-benda yang dipersepsikan tersebut idak ada usaha untuk mempengaruhi yang
mempersepsi.[11]
Karena persepsi merupakan hal yang bersifat subyektif,
yaitu melibatkan tafsiran pribadi masing-masing individu, sehingga perlu
diketahui faktor-faktor apa saja yang berasal dari dalam individu atau dengan
kata lain faktor psikologis yang mempengaruhi persepsi individu. Faktor-faktor
tersebut antara lain:
a. Ingatan
Kemampuan
mengingat tiap-tiap individu terhadap apa yang pernah dipelajari atau
dipersepsikannya akan berbeda, ada yang cepat dan ada yang lambat.
b. Motivasi
Bila
motivasi individu terhadap objek tertentu semakin besar, maka perhatiannya
terhadap objek itu akan semakin jelas dan mudah di pahami atau dipersepsikan
oleh individu.
c. Perasaan
Meskipun
setiap individu memperoleh ransangan yang sama dari objek tertentu, tetapi
dapat menimbulkan perasaan yang berbeda yaitu ada yang senang atau sebaliknya
yang pada akhirnya mempengaruhi persepsinya terhadap objek tersebut.
d. Berpikir
Cara
berpikir seseorang dalam memecahkan masalah biasanya berbeda, ada yang
menggunakan pengertian dan ada yang tidak sehingga hanya coba-coba saja.
Berpikir berkaitan dengan persepsi yaitu dalam memahami objek tertentu,
individu biasanya melibatkan kegiatan menghubungkan pengertian-pengertian yang
diperoleh baik secara sengaja maupun tidak.
Faktor-faktor yang berasal dari
luar individu juga dapat mempengaruhi persepsi individu. Faktor tersebut antara
lain:[12]
1. Faktor Objek
Meliputi
ukuran, intensitas dan konntras atau pertentangan. Semakin besar objek
tertentu, maka persepsi individu terhadap objek tersebut kan semakin jelas dan
mudah dipahami. Kemudian jika intensits objek yng dipersepsikan semakin sering
ditunjukan, maka objek tersebut semakin mudah untuk dipersepsikan. Objek yang
semakin bertentngan atau kontras dengan sekitarnya akan lebih menarik perhatian
orang sehingga akan lebih mudah dipersepsikan orang.
2. Faktor situasi
Adalah
kondisi lingkungan dimana individu dipersepsikan objek tertentu, misalnya hawa
panas atau dingin, terang atau gelap dan lain-lain serta banyak waktu yang
digunakan individunya untuk mempersepsikan objek tertentu.
4.
Pemahaman persepsi
Pemahaman mengenai
persepsi penting untuk diketahui karena persepsi merupakan salah satu variabel
penting yang mempengaruhi prilaku individu. Oleh karena itu dapat disimpulkan
bahwa prilaku tidak bisa lepas dari pengaruh individu sendiri dan
lingkungannya. Variabel individu meliputi faktor-faktor yang ada didalam
pribadi individu seperti persesi, sikap, kemampuan, dan keterampilan, keahlian
fisik dan lain-lain. Variabel lingkungan merupakan faktor yang datang dari luar
diri individu seperti pengalaman, pendidikan, pengetahuan, lingkungan sekitar
dan sebagainya. Melalui pemahaman persepsi individu tertentu, seseorang dapat
meramalkan bagaimana prilaku individu tersebut, dengan kata lain merupakan
deteksi awal bagi prilaku individu tersebut, dengan kata lain merupakan deteksi
awal bagi prilaku individu.
[2]
Gerungan, WA. Psikologi Sosial.( Bandung: Eresco, 1991). hal 35.
[3] Stephen P Robbins. Organizational
Behavior. 9th edition (Prentice-Hall
International, 2001), hal, 88.
[4] Philip, Kotler. Marketing Management: Analysis, Planning,
Implementation and Control, 1k1thoendistioun (NeewnJersey: Prentice-Hall
International Inc., 2003) hal. 197
[5]Engel, James F., Roger D. Blackwell, Paul W. Miniard,
Consumer Behavior, 8th edition
(Orlando Florida USA: The Dryden Press Harcourt Brace College
Publisher, 1995), hal. 39.
[7]Schiffman, Leon G, & Kanuk, Leslie Lazar, Consumer Behavior,
8th edition (New Jersey: Pearson Prentice Hall, 2004), hal. 158
[8] Michael R. Solomon. Consumer Behavior: Buying,
Having, and Being, 3t h edition (NewJersey:
Prentice-Hall International, 1996), hal. 56.
[10]Bimo, Walgito, Psikologi Social,
(Yogyakarta, Andi Offset, 1991), h. 53

Tidak ada komentar:
Posting Komentar