Rabu, 31 Juli 2019

Pengertian dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi


B.     Pengertian dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi
1.      Pengertian Persepsi
            Persepsi merupakan suatu hal yang penting dalam melihat citra dan reputasi suatu perusahaan atau sebuah lembaga. Citra tersebut dihasilkan atau dibentuk dari komunikasi pemasaran yang efektif dan strategik. Sedangkan kualitas citra tersebut tergantung pada reputasi yang disandang oleh perusahaan atau lembaga yang bersangkutan.
            Terujinya kualitas suatu citra tidak terlepas dari beberapa faktor seperti usia, pengalaman, konsistensi, makna, dan lingkungan makro/eksternal. Untuk lebih mendalami hal-hal tersebut, maka dibutuhkan suatu kajian teori yang dapat memberikan pengertian dan wawasan akademis yang lebih mendalam. Kajian teori ini yang nantinya akan menjadikan dasar-dasar bagi peneliti dalam mengembangkan tulisan  dari  hasil  penelitian  yang  dilakukan,  baik  untuk  menganalisanya maupun dalam membuat kesimpulan dan rekomendasi.
            Pengertian persepsi banyak sekali yang dikemukakan oleh para Ahli, namun yang jelas setiap ahli memberikan pengertian ini dipengaruhi oleh persepsinya sendiri. Menurut Bimo,[1] persepsi adalah dimana seorang individu memberikan arti kepada lingkungan, yang merupakan proses seorang individu untuk memahami objek tertentu yang diawali dengan timbulnya ransangan dari objek tertentu yang diterima oleh alat indra individu dan kemudian diteruskan ke otak sehingga individu tersebut dapat memahami objek yang diterimanya. Persepsi bersifat subjektif karena melibatkan aspek psikologis yaitu proses kognitif sehingga apa yang ada dalam pikiran individu akan ikut aktif dalam menentukan persepsi individu.
            Ada empat jenis hubungan antara individu dan lingkungannya.   Individu dapat bertentangan dengan lingkungannya, individu dapat mengikuti lingkungannya, individu dapat berpartisipasi (ikut serta) dengan lingkungannya, dan individu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.[2] Sejak itu pula ia menerima langsung stimuli atau rangsangan dari luar dirinya.
            Sejalan dengan perjalanan waktu, berkembang pula kemampuan individu untuk mengenali stimulus, yang berarti berkembang pula kemampuan untuk mempersepsi stimulus yang datang kepadanya. Stimulus mengenai individu itu kemudian diorganisasikan dan diinterpretasikan, sehingga individu menyadari tentang apa yang diinderanya itu. Proses inilah yang disebut dengan persepsi. Dengan demikian, persepsi tidak dapat lepas dari proses penginderaan yang merupakan awal terjadinya persepsi. Stephen Robbins mengemukakan bahwa persepsi dapat didefinisikan sebagai suatu proses di mana individu-individu mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera mereka agar memberi makna kepada lingkungan mereka.[3]
            Menurut Kotler, persepsi adalah proses yang digunakan seorang individu untuk memilih, mengelola dan menafsirkan suatu input informasi untuk menciptakan suatu gambaran yang memiliki arti. Persepsi ini tidak hanya bergantung pada rangsangan fisik tetapi juga pada rangsangan yang berhubungan dengan lingkungan sekitar dan keadaan individu yang bersangkutan.[4] Ketiga poin inilah yang menjadi elemen dasar terjadinya sebuah persepsi.
            Dalam melakukan kegiatan pemilihan suatu produk, konsumen seringkali memilihnya berdasarkan pada persepsi mereka. Langkah ini mereka lakukan adalah dalam rangka menyederhanakan proses pemilihan tersebut. Persepsi konsumen terhadap suatu produk atau jasa memegang peranan penting dalam pengambilan keputusan untuk membeli sebuah produk atau memanfaatkan suatu jasa. Ketika seorang konsumen merasa sangat puas terhadap suatu produk atau layanan jasa, maka perilaku membeli produk atau menggunakan jasa tersebut mungkin akan terjadi lagi.[5]
Little Graham mengemukakan bahwa untuk memahami persepsi ada pertanyaan fundamental yang perlu diperhatikan yaitu:[6]
- Bagaimana realitas eksternal mempengaruhi manusia?
- Apa langkah-langkah di dalam pengaruh tersebut?
- Bagaimana pengaruh tersebut dapat menjadi konsepsi?
            Dari pertanyaan-pertanyaan dan definisi-definisi yang telah disebutkan di atas, maka persepsi dapat dipahami sebagai suatu proses dari manusia untuk memahami lingkungan sekitarnya. Karena persepsi merupakan proses yang sangat subyektif dan selektif, maka bisa saja masing-masing orang melihat suatu obyek yang sama namun diinterpretasikan secara berbeda. Hal ini tergantung pada kebutuhan masing-masing individu, nilai-nilai obyek yang dipersepsi, dan pengalaman masing-masing.[7]
2.      Proses Perseptual
Seleksi perseptual terjadi ketika konsumen menangkap dan memilih stimulus berdasarkan pada psikologis set yang dimiliki. Psikologis set yaitu berbagai informasi yang ada dalam memori konsumen. Sebelum seleksi persepsi terjadi, terlebih dahulu stimulus harus mendapat perhatian dari konsumen. Oleh karena itu, dua proses yang termasuk ke dalam definisi seleksi adalah perhatian (attention) dan persepsi selektif (selective perception).[8]
Gambar 2. 1
Skema Proses Perseptual
 






Sumber: Michael R.Solomon, Consumer Behavior,1996.
            Perhatian yang dilakukan oleh konsumen dapat terjadi secara sengaja atau tidak sengaja. Perhatian yang dilakukan secara sengaja adalah disebut juga sebagai voluntary attention, yaitu terjadi ketika konsumen secara aktif mencari informasi yang mempunyai relevansi pribadi. Persepsi selektif terjadi ketika konsumen melakukan voluntary attention. Ketika konsumen mempunyai keterlibatan yang tinggi terhadap suatu produk, maka pada saat itu konsumen bisa disebut melakukan proses perhatian selektif (selective attention).
Proses perhatian selektif terjadi karena dengan mempunyai keterlibatan yang tinggi terhadap suatu merek produk, berarti konsumen telah secara aktif mencari informasi mengenai produk itu dari berbagai sumber. Dengan demikian, perhatian selektif hanya terjadi pada produk-produk yang dikonsumsi berdasarkan keterlibatan yang tinggi.
Selain konsumen melakukan perhatian secara sengaja, konsumen juga melakukan perhatian secara tidak sengaja (involuntary attention). Involuntary attention terjadi ketika dipaparkan kepada konsumen sesuatu yang menarik, mengejutkan, menantang atau sesuatu yang tidak diperkirakan, yang tidak ada relevansinya dengan tujuan atau kepentingan konsumen. Stimuli dengan ciri- ciri di atas secara otomatis akan mendapat tanggapan konsumen.
Perhatian dari konsumen, baik yang berupa voluntary attention maupun yang berupa involuntary attention, kedua-duanya memerlukan alokasi kapasitas kognitif dari konsumen terhadap stimulus tertentu. Tanpa hal tersebut, maka proses yang terjadi hanya terhenti pada perhatian saja. Karenanya, proses perseptual juga perlu menginterpretasi stimulus. Inilah yang dikenal dengan istilah perceptual encoding. Proses ini terdiri dari dua tahap utama, yaitu:[9]
a.       Feature analysis, merupakan tahap awal di mana penerima pesan melihat ciri dasar (basic feature) dari stimulus (seperti ukuran, bentuk, warna, dan angle).
b.      Active analysis, tidak hanya melakukan “pemeriksaan” terhadap ciri-ciri fisik. Konteks atau situasi di mana informasi diterima mempunyai peran penting dalam menentukan apa yang diterima dan diinterpretasikan, atau dengan kata lain, dalam menentukan arti apa yang diperoleh. Interpretasi dihasilkan dari usaha mengkombinasikan ciri-ciri stimulus dengan ekspektasi yang semestinya sesuai dengan konteks yang diinginkan.
            Pemahaman konsumen mengenai stimulus pemasaran ditentukan oleh feature dari stimulus serta karakteristik konsumen itu sendiri. Ekspektasi, kebutuhan, sifat, pengalaman masa lalu, dan sikap terhadap obyek stimulus, seluruhnya memainkan peran penting dalam menentukan persepsi konsumen.
3.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi
Perkembangan persepsi dipengaruhi oleh berbagai faktor stimulus itu sendiri dan faktor lingkungan dimana persepsi itu  berlangsung. Stimulus dan lingkungan sebagai faktor eksternal dan individu sebagai faktor internal saling berintegrasi dalam individu mengadakan persepsi.[10]
            Agar stimulus dapat dipersepsikan, maka stimulus harus kuat sehingga dapat dipersepsikan oleh individu. Kejelasan stimulus banyak berpengaruh dalam persepsi. Bila stimulus berwujud benda bukan manusia, maka ketetapan persepsi lebih terletak pada individu yang mengadakn persepsi, akrena benda-benda yang dipersepsikan tersebut idak ada usaha untuk mempengaruhi yang mempersepsi.[11]
            Karena persepsi merupakan hal yang bersifat subyektif, yaitu melibatkan tafsiran pribadi masing-masing individu, sehingga perlu diketahui faktor-faktor apa saja yang berasal dari dalam individu atau dengan kata lain faktor psikologis yang mempengaruhi persepsi individu. Faktor-faktor tersebut antara lain:
a.       Ingatan
Kemampuan mengingat tiap-tiap individu terhadap apa yang pernah dipelajari atau dipersepsikannya akan berbeda, ada yang cepat dan ada yang lambat.
b.      Motivasi
Bila motivasi individu terhadap objek tertentu semakin besar, maka perhatiannya terhadap objek itu akan semakin jelas dan mudah di pahami atau dipersepsikan oleh individu.
c.       Perasaan
Meskipun setiap individu memperoleh ransangan yang sama dari objek tertentu, tetapi dapat menimbulkan perasaan yang berbeda yaitu ada yang senang atau sebaliknya yang pada akhirnya mempengaruhi persepsinya terhadap objek tersebut.
d.      Berpikir
Cara berpikir seseorang dalam memecahkan masalah biasanya berbeda, ada yang menggunakan pengertian dan ada yang tidak sehingga hanya coba-coba saja. Berpikir berkaitan dengan persepsi yaitu dalam memahami objek tertentu, individu biasanya melibatkan kegiatan menghubungkan pengertian-pengertian yang diperoleh baik secara sengaja maupun tidak.
Faktor-faktor yang berasal dari luar individu juga dapat mempengaruhi persepsi individu. Faktor tersebut antara lain:[12]
1.      Faktor Objek
Meliputi ukuran, intensitas dan konntras atau pertentangan. Semakin besar objek tertentu, maka persepsi individu terhadap objek tersebut kan semakin jelas dan mudah dipahami. Kemudian jika intensits objek yng dipersepsikan semakin sering ditunjukan, maka objek tersebut semakin mudah untuk dipersepsikan. Objek yang semakin bertentngan atau kontras dengan sekitarnya akan lebih menarik perhatian orang sehingga akan lebih mudah dipersepsikan orang.
2.      Faktor situasi
Adalah kondisi lingkungan dimana individu dipersepsikan objek tertentu, misalnya hawa panas atau dingin, terang atau gelap dan lain-lain serta banyak waktu yang digunakan individunya untuk mempersepsikan objek tertentu.
4.      Pemahaman persepsi
Pemahaman mengenai persepsi penting untuk diketahui karena persepsi merupakan salah satu variabel penting yang mempengaruhi prilaku individu. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa prilaku tidak bisa lepas dari pengaruh individu sendiri dan lingkungannya. Variabel individu meliputi faktor-faktor yang ada didalam pribadi individu seperti persesi, sikap, kemampuan, dan keterampilan, keahlian fisik dan lain-lain. Variabel lingkungan merupakan faktor yang datang dari luar diri individu seperti pengalaman, pendidikan, pengetahuan, lingkungan sekitar dan sebagainya. Melalui pemahaman persepsi individu tertentu, seseorang dapat meramalkan bagaimana prilaku individu tersebut, dengan kata lain merupakan deteksi awal bagi prilaku individu tersebut, dengan kata lain merupakan deteksi awal bagi prilaku individu.


[1] Bimo, Walgito, Psikologi Kesehatan, (Jakarta: Andi Offset, 1991) h. 5
[2] Gerungan, WA. Psikologi Sosial.( Bandung: Eresco, 1991). hal 35.
[3] Stephen P Robbins.  Organizational Behavior. 9th  edition (Prentice-Hall International, 2001), hal, 88.
[4] Philip, Kotler. Marketing Management: Analysis, Planning, Implementation and Control, 1k1thoendistioun (NeewnJersey: Prentice-Hall International Inc., 2003) hal. 197
[5]Engel, James F., Roger D. Blackwell, Paul W. Miniard, Consumer Behavior, 8th edition
(Orlando Florida USA: The Dryden Press Harcourt Brace College Publisher, 1995), hal. 39.
[6]Little, Graham R., A Theory of Perception, dari www.grlphilosophy.co.nz/paper1.htm., hal 4.
[7]Schiffman, Leon G, & Kanuk, Leslie Lazar, Consumer Behavior, 8th edition (New Jersey: Pearson Prentice Hall, 2004), hal. 158
[8] Michael R. Solomon. Consumer Behavior: Buying, Having, and Being, 3t h edition (NewJersey: Prentice-Hall International, 1996), hal. 56.
[9]Ibid.  hal. 70.
[10]Bimo, Walgito, Psikologi Social, (Yogyakarta, Andi Offset, 1991), h. 53
[11]Ibid., h. 55
[12] Log, cit.,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar