- Bank Syariah
Dalam kehidupan sehari-hari, bank
dikenal sebagai lembaga keuangan yang
kegiatan utamanya menerima simpanan giro, tabungan dan deposito.
Kemudian bank juga dikenal sebagai tempat
untuk meminjam uang (kredit) bagi masyarakat yang membutuhkanya. Menurut
undang-undang RI nomor 10 Tahun 1998 Tanggal 1 November 1998 tentang perbankan,
yang dimaksud dengan bank adalah “Badan usaha yang menghimpun dana dari
masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk
kredit atau bentuk-bentuk lainya dalam rangka meningkatkan taraf hidup
rakyat banyak.”[1]
Pada intinya kegiatan perbankan meliputi
penghimpunan dana dari masyarakat kemudian dana tersebut disalurkan kembali
dalam bentuk produk pembiayaan kepada masyarakat guna memenuhi kebutuhan dari
sistem keuangan. Sedangkan yang dimaksud dengan perbankan syari’ah adalah suatu
sistem perbankan yang dikembangkan berdasarkan syari’ah atau hukum Islam.
Bank
Syari’ah yang merupakan representative dari pengamalan ajaran Islam, mempunyai
beberapa tujuan diantaranya:[2]
- Mengarahkan
kegiatan Ekonomi umat untuk bermuamalah secara Islam, khususnya muamalat
yang berhubungan dengan perbankan agar terhindar dari jenis-jenis usaha
yang dilarang dalam Islam.
- Untuk
menciptakan keadilan dibidang ekonomi dengan jalan meratakan pendapatan
melalui kegiatan investasi, agar tidak terjadi kesenjangan yang amat besar
antara pemilik modal dengan yang membutuhkan dana.
- Untuk
meningkatkan kualitas hidup umat dengan jalan membuka peluang usaha yang
lebih besar terutama kelompok miskin, yang diarahkan kepada kegiatan usaha
yang produktif, menuju terciptanya kemandirian usaha.
- Untuk
mengurangi masalah kemiskinan, yang pada umunnya merupakan program utama
dari negara-negara yang sedang berkembang.
- Untuk
menjaga stabilitas ekonomi dan moneter.
- Untuk
menyelamatkan ketergantungan umat islam terhadap bank non syari’ah.
- Persepsi
Persepsi
merupakan suatu hal yang penting dalam melihat citra dan reputasi suatu
perusahaan atau sebuah lembaga. Citra tersebut dihasilkan atau dibentuk dari komunikasi
pemasaran yang efektif dan strategik. Sedangkan kualitas citra tersebut
tergantung pada reputasi yang disandang oleh perusahaan atau lembaga yang
bersangkutan.
Terujinya
kualitas suatu citra tidak terlepas dari beberapa faktor seperti usia,
pengalaman, konsistensi, makna, dan lingkungan makro/eksternal. Untuk lebih
mendalami hal-hal tersebut, maka dibutuhkan suatu kajian teori yang dapat
memberikan pengertian dan wawasan akademis yang lebih mendalam. Kajian teori ini
yang nantinya akan menjadikan dasar-dasar bagi peneliti dalam mengembangkan tulisan dari hasil penelitian yang dilakukan, baik untuk menganalisanya
maupun dalam membuat kesimpulan dan rekomendasi.
- Pengertian Persepsi
Pengertian persepsi banyak sekali yang
dikemukakan oleh para Ahli, namun yang jelas setiap ahli memberikan pengertian
ini dipengaruhi oleh persepsinya sendiri. Menurut Winardi,[3]
persepsi merupakan proses kognitif, dimana seorang individu memberikan arti
kepada lingkungan. Persepsi meliputi kognisi (pengetahuan), dengan demikian
persepsi mencakup penafsiran objek-objek, simbol-simbol dan orang-orang,
dipandang dari sudut pengalaman penting. Dengan kata lain, persepsi meliputi
aktifitas menerima stimuli, mengorganisasi stimuli tersebut, dan menerjemahkan
atau menafsirkan stimuli yang terorganisasi tersebut sedemikian rupa, sehingga
ia dapat mempengaruhi perilaku dan membentuk sikap.
Sejalan dengan perjalanan waktu,
berkembang pula kemampuan individu untuk mengenali stimulus, yang berarti
berkembang pula kemampuan untuk mempersepsi stimulus yang datang kepadanya. Stimulus
mengenai individu itu kemudian diorganisasikan dan diinterpretasikan,
sehingga individu menyadari tentang apa yang diinderanya itu. Proses inilah
yang disebut dengan persepsi. Dengan
demikian, persepsi tidak dapat lepas dari proses penginderaan yang merupakan
awal terjadinya persepsi. Stephen Robbins mengemukakan bahwa persepsi dapat
didefinisikan sebagai suatu proses di mana individu-individu mengorganisasikan
dan menafsirkan kesan indera mereka agar memberi makna kepada lingkungan mereka.[5]
Menurut Kotler, persepsi adalah
proses yang digunakan seorang individu untuk memilih, mengelola dan menafsirkan
suatu input informasi untuk menciptakan suatu gambaran yang memiliki arti.
Persepsi ini tidak hanya bergantung pada rangsangan fisik tetapi juga pada
rangsangan yang berhubungan dengan lingkungan sekitar dan keadaan individu yang
bersangkutan.[6]
Ketiga poin inilah yang menjadi elemen dasar terjadinya sebuah persepsi.
Dalam melakukan kegiatan pemilihan
suatu produk, konsumen seringkali memilihnya berdasarkan pada persepsi mereka.
Langkah ini mereka lakukan adalah dalam rangka menyederhanakan proses pemilihan
tersebut. Persepsi konsumen terhadap suatu produk atau jasa memegang peranan
penting dalam pengambilan keputusan untuk membeli sebuah produk atau
memanfaatkan suatu jasa. Ketika seorang konsumen merasa sangat puas terhadap
suatu produk atau layanan jasa, maka perilaku membeli produk atau menggunakan jasa
tersebut mungkin akan terjadi lagi.[7]
Little Graham
mengemukakan bahwa untuk memahami persepsi ada pertanyaan fundamental yang
perlu diperhatikan yaitu:[8]
- Bagaimana
realitas eksternal mempengaruhi manusia?
- Apa
langkah-langkah di dalam pengaruh tersebut?
- Bagaimana
pengaruh tersebut dapat menjadi konsepsi?
Dari
pertanyaan-pertanyaan dan definisi-definisi yang telah disebutkan di atas, maka
persepsi dapat dipahami sebagai suatu proses dari manusia untuk memahami
lingkungan sekitarnya. Karena persepsi merupakan proses yang sangat subyektif
dan selektif, maka bisa saja masing-masing orang melihat suatu obyek yang sama
namun diinterpretasikan secara berbeda. Hal ini tergantung pada kebutuhan
masing-masing individu, nilai-nilai obyek yang dipersepsi, dan pengalaman
masing-masing.[9]
- Proses Perseptual
Seleksi
perseptual terjadi ketika konsumen menangkap dan memilih stimulus berdasarkan
pada psikologis set yang dimiliki. Psikologis set yaitu berbagai informasi yang
ada dalam memori konsumen. Sebelum seleksi persepsi terjadi, terlebih dahulu
stimulus harus mendapat perhatian dari konsumen. Oleh karena itu, dua proses
yang termasuk ke dalam definisi seleksi adalah perhatian (attention) dan
persepsi selektif (selective perception).[10]
Gambar
1.2
Skema Proses Perseptual
![]() |
Sumber: Michael R.Solomon, Consumer Behavior,1996.
Perhatian
yang dilakukan oleh konsumen dapat terjadi secara sengaja atau tidak sengaja.
Perhatian yang dilakukan secara sengaja adalah disebut juga sebagai voluntary
attention, yaitu terjadi ketika konsumen secara aktif mencari informasi
yang mempunyai relevansi pribadi. Persepsi selektif terjadi ketika konsumen
melakukan voluntary attention. Ketika konsumen mempunyai keterlibatan
yang tinggi terhadap suatu produk, maka pada saat itu konsumen bisa disebut
melakukan proses perhatian selektif (selective attention).
Proses
perhatian selektif terjadi karena dengan mempunyai keterlibatan yang tinggi
terhadap suatu merek produk, berarti konsumen telah secara aktif mencari
informasi mengenai produk itu dari berbagai sumber. Dengan demikian, perhatian
selektif hanya terjadi pada produk-produk yang dikonsumsi berdasarkan
keterlibatan yang tinggi.
Selain
konsumen melakukan perhatian secara sengaja, konsumen juga melakukan perhatian
secara tidak sengaja (involuntary attention). Involuntary
attention terjadi ketika dipaparkan kepada konsumen sesuatu yang menarik, mengejutkan,
menantang atau sesuatu yang tidak diperkirakan, yang tidak ada relevansinya
dengan tujuan atau kepentingan konsumen. Stimuli dengan ciri- ciri di atas
secara otomatis akan mendapat tanggapan konsumen.
Perhatian
dari konsumen, baik yang berupa voluntary attention maupun yang berupa involuntary
attention, kedua-duanya memerlukan alokasi kapasitas kognitif dari konsumen
terhadap stimulus tertentu. Tanpa hal tersebut, maka proses yang terjadi hanya
terhenti pada perhatian saja. Karenanya, proses perseptual juga perlu
menginterpretasi stimulus. Inilah yang dikenal dengan istilah perceptual
encoding. Proses ini terdiri dari dua tahap utama, yaitu:[11]
a.
Feature analysis, merupakan tahap awal di mana penerima
pesan melihat ciri dasar (basic feature) dari stimulus (seperti ukuran,
bentuk, warna, dan angle).
b.
Active analysis, tidak hanya melakukan “pemeriksaan”
terhadap ciri-ciri fisik. Konteks atau situasi di mana informasi diterima
mempunyai peran penting dalam menentukan apa yang diterima dan
diinterpretasikan, atau dengan kata lain, dalam menentukan arti apa yang
diperoleh. Interpretasi dihasilkan dari usaha mengkombinasikan ciri-ciri stimulus
dengan ekspektasi yang semestinya sesuai dengan konteks yang diinginkan.
Pemahaman
konsumen mengenai stimulus pemasaran ditentukan oleh feature dari
stimulus serta karakteristik konsumen itu sendiri. Ekspektasi,
kebutuhan, sifat, pengalaman masa lalu, dan sikap terhadap obyek stimulus, seluruhnya
memainkan peran penting dalam menentukan persepsi konsumen.
- Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi
Persepsi
tidaklah muncul begitu saja, akan tetapi dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Menurut Robbins, faktor-faktor yang dapat membentuk atau justru memutarbalikkan
persepsi seseorang adalah:[12]
- Pelaku Persepsi(perceiver)
Bila
seseorang individu memandang pada suatu target dan mencoba menafsirkan apa yang
dilihatnya, penafsiran itu sarat dipengaruhi oleh karakteristik-karakteristik
pribadi dari perilaku persepsi individual tersebut. Di antara karakteristik
pribadi yang lebih relevan mempengaruhi pelaku persepsi adalah sikap, motif,
kepentingan atau minat, pengalaman masa lalu, dan pengharapan (ekspektasi).
- Target
Karakteristik-karakteristik
dalam target yang akan diamati dapat mempengaruhi apa yang dipersepsikan.
Gerakan, bunyi, ukuran, dan atribut-atribut lain dari target membentuk cara
kita memandangnya. Karena target tidak dipandang dalam keadaan terpencil,
hubungan suatu target dengan latar belakangnya mempengaruhi persepsi, seperti kecenderungan
kita untuk mengelompokkan benda-benda yang berdekatan atau yang mirip.
- Situasi
Adalah
konteks di mana kita melihat objek-objek atau peristiwa- peristiwa. Unsur-unsur
dalam lingkungan sekitar mempengaruhi persepsi kita. Sekali lagi, situasi dapat
mempengaruhi persepsi dan perhatian, seperti lokasi, cahaya, panas, atau setiap
jumlah faktor situasional.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
persepsi tersebut di atas dapat digambarkan dalam skema berikut:
Gambar 1.3
Skema Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Persepsi
![]() |
Sumber: Stephen P. Robbins, Organizational
Behavior, 2001
Sementara itu, Solomon menyatakan bahwa
persepsi seorang konsumen atas berbagai stimulus yang diterimanya dipengaruhi
oleh karakteristik yang dimilikinya. Beberapa karakteristik yang mempengaruhi
persepsi konsumen adalah:[13]
a.
Membedakan stimulus
Satu hal yang sangat penting bagi
pemasar adalah mengetahui bagaimana konsumen bisa membedakan perbedaan antara
dua stimuli atau lebih. Apakah konsumen merasakan perbedaan merek berdasarkan
rasa, perabaan, harga dari bentuk kemasan produk misalnya, agar suatu merek
produk bisa dibedakan dengan merek produk lainnya.
b.
Tingkat ambang batas (threshold level)
Kemampuan konsumen untuk mendeteksi
perbedaan dalam suara, cahaya, bau atau stimuli yang lainnya, ditentukan oleh
tingkat ambang batasnya (threshold level). Ada dua jenis threshold, yaitu:
1. Absolute threshold, merupakan jumlah rangsangan minimum
yang dapat dideteksi oleh channel inderawi.
2. Differential threshold, merupakan kemampuan sistem
inderawi untuk mendeteksi atau membedakan antara dua stimuli. Differential
threshold menentukan tingkat ambang batas dua stimuli yang bisa ditangkap
oleh konsumen.
c.
Persepsi bawah sadar (subliminal perception)
Pemasar selalu berusaha menciptakan
pesan di atas tingkat ambang batas kesadaran konsumen (consumer level
threshold). Para peneliti menemukan bahwa
konsumen sebenarnya mampu memberikan respons atas informasi ataupun pesan yang
datang pada bawah sadarnya. Artinya, ketika konsumen dirangsang oleh suatu
pesan, sebenarnya konsumen tidak menyadari akan keberadaan pesan tersebut,
namun alam bawah sadarnya mampu menangkapnya. Dengan demikian stimulus (pesan)
tersebut di bawah tingkat ambang batas kesadaran konsumen. Kemampuan konsumen
memberikan tanggapan terhadap stimulus yang berada di bawah kesadaran atau
berada di bawah ambang batas kesadarannya disebut persepsi subliminal (subliminal
perception).
d.
Tingkat adaptasi
Satu konsep yang berkaitan erat dengan
ambang batas absolut (absolute threshold) adalah tingkat adaptasi. Hal
ini terjadi ketika konsumen sudah merasa terbiasa dan kemudian tidak mampu
lagi, maka ketika itu juga ambang batas absolutnya berubah. Tingkat adaptasi
terjadi ketika konsumen tidak lagi memperhatikan stimulus yang berulang-ulang.
e.
Generalisasi stimulus
Generalisasi terjadi ketika konsumen
melihat dua stimulus atau lebih yang mempunyai kesamaan (mempunyai hubungan
yang dekat/contiguity), dan saling mempengaruhi satu dengan yang
lainnya, oleh karena itu dapat disubstitusikan
Selain dari beberapa pendapat di atas,
Bimo Walgito yang memandang persepsi dari sisi psikologis, membagi faktor yang
mempengaruhinya pada dua hal, yaitu:[14]
a)
Faktor internal, meliputi perasaan, pengalaman, kemampuan
berpikir, kerangka acuan dan aspek-aspek lain dalam diri individu.
b)
Faktor eksternal, meliputi:
- Stimulus yang diterima individu melalui proses penginderaan
terhadap objek
- Lingkungan atau situasi khususnya yang
melatarbelakangi stimulus
[1]Kasmir,
SE, MM. Bank dan Lembaga Keuangan lainya. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada 2003, hal
23.
[2]Heri
Sudarsono, Bank dan Lenbaga Keuangan yariah. Yogyakarta
: EKONISIA Kampus Fakultas Ekonomi UII. 2003, hal 40.
[3]Winardi, J. Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen.(Jakarta :PT.Raja Grafindo,2004).hal
203-204
[5] Stephen
P Robbins. Organizational Behavior.
9th edition (Prentice-Hall
International, 2001), hal, 88.
[6] Philip,
Kotler. Marketing Management: Analysis, Planning, Implementation and
Control, 1k1thoendistioun (NeewnJersey: Prentice-Hall International Inc.,
2003) hal. 197
[7]Engel, James F., Roger D. Blackwell, Paul W. Miniard, Consumer
Behavior, 8th edition
(Orlando
Florida USA: The Dryden Press Harcourt Brace College Publisher, 1995), hal. 39.
[9]Schiffman , Leon G,
& Kanuk, Leslie Lazar, Consumer Behavior, 8th edition (New Jersey : Pearson
Prentice Hall, 2004), hal. 158
[10] Michael R. Solomon. Consumer
Behavior: Buying, Having, and Being, 3t h edition (New
[14]Bimo
Walgito, Psikologi Sosial (Suatu Pengantar), (Yogyakarata: Andi Offset,
1990), hal. 128.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar