Rabu, 31 Juli 2019

Bank Syariah


  1. Bank Syariah
Dalam kehidupan sehari-hari, bank dikenal sebagai lembaga keuangan yang  kegiatan utamanya menerima simpanan giro, tabungan dan deposito. Kemudian  bank juga dikenal sebagai tempat untuk meminjam uang (kredit) bagi masyarakat yang membutuhkanya. Menurut undang-undang RI nomor 10 Tahun 1998 Tanggal 1 November 1998 tentang perbankan, yang dimaksud dengan bank adalah “Badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainya dalam rangka meningkatkan taraf  hidup rakyat banyak.”[1]
Pada intinya kegiatan perbankan meliputi penghimpunan dana dari masyarakat kemudian dana tersebut disalurkan kembali dalam bentuk produk pembiayaan kepada masyarakat guna memenuhi kebutuhan dari sistem keuangan. Sedangkan yang dimaksud dengan perbankan syari’ah adalah suatu sistem perbankan yang dikembangkan berdasarkan syari’ah atau hukum Islam.
Bank Syari’ah yang merupakan representative dari pengamalan ajaran Islam, mempunyai beberapa tujuan diantaranya:[2]
  1. Mengarahkan kegiatan Ekonomi umat untuk bermuamalah secara Islam, khususnya muamalat yang berhubungan dengan perbankan agar terhindar dari jenis-jenis usaha yang dilarang dalam Islam.
  2. Untuk menciptakan keadilan dibidang ekonomi dengan jalan meratakan pendapatan melalui kegiatan investasi, agar tidak terjadi kesenjangan yang amat besar antara pemilik modal dengan yang membutuhkan dana.
  3. Untuk meningkatkan kualitas hidup umat dengan jalan membuka peluang usaha yang lebih besar terutama kelompok miskin, yang diarahkan kepada kegiatan usaha yang produktif, menuju terciptanya kemandirian usaha.
  4. Untuk mengurangi masalah kemiskinan, yang pada umunnya merupakan program utama dari negara-negara yang sedang berkembang.
  5. Untuk menjaga stabilitas ekonomi dan moneter.
  6. Untuk menyelamatkan ketergantungan umat islam terhadap bank non syari’ah.
  1. Persepsi
Persepsi merupakan suatu hal yang penting dalam melihat citra dan reputasi suatu perusahaan atau sebuah lembaga. Citra tersebut dihasilkan atau dibentuk dari komunikasi pemasaran yang efektif dan strategik. Sedangkan kualitas citra tersebut tergantung pada reputasi yang disandang oleh perusahaan atau lembaga yang bersangkutan.
Terujinya kualitas suatu citra tidak terlepas dari beberapa faktor seperti usia, pengalaman, konsistensi, makna, dan lingkungan makro/eksternal. Untuk lebih mendalami hal-hal tersebut, maka dibutuhkan suatu kajian teori yang dapat memberikan pengertian dan wawasan akademis yang lebih mendalam. Kajian teori ini yang nantinya akan menjadikan dasar-dasar bagi peneliti dalam mengembangkan tulisan dari hasil penelitian yang dilakukan, baik untuk  menganalisanya maupun dalam membuat kesimpulan dan rekomendasi.
  1. Pengertian Persepsi
Pengertian persepsi banyak sekali yang dikemukakan oleh para Ahli, namun yang jelas setiap ahli memberikan pengertian ini dipengaruhi oleh persepsinya sendiri. Menurut Winardi,[3] persepsi merupakan proses kognitif, dimana seorang individu memberikan arti kepada lingkungan. Persepsi meliputi kognisi (pengetahuan), dengan demikian persepsi mencakup penafsiran objek-objek, simbol-simbol dan orang-orang, dipandang dari sudut pengalaman penting. Dengan kata lain, persepsi meliputi aktifitas menerima stimuli, mengorganisasi stimuli tersebut, dan menerjemahkan atau menafsirkan stimuli yang terorganisasi tersebut sedemikian rupa, sehingga ia dapat mempengaruhi perilaku dan membentuk sikap.
Ada empat jenis hubungan antara individu dan lingkungannya. Individu dapat bertentangan dengan lingkungannya, individu dapat mengikuti lingkungannya, individu dapat berpartisipasi (ikut serta) dengan lingkungannya, dan individu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.[4] Sejak itu pula ia menerima langsung stimuli atau rangsangan dari luar dirinya.
Sejalan dengan perjalanan waktu, berkembang pula kemampuan individu untuk mengenali stimulus, yang berarti berkembang pula kemampuan untuk mempersepsi stimulus yang datang kepadanya. Stimulus mengenai individu itu kemudian diorganisasikan dan diinterpretasikan, sehingga individu menyadari tentang apa yang diinderanya itu. Proses inilah yang disebut dengan persepsi. Dengan demikian, persepsi tidak dapat lepas dari proses penginderaan yang merupakan awal terjadinya persepsi. Stephen Robbins mengemukakan bahwa persepsi dapat didefinisikan sebagai suatu proses di mana individu-individu mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera mereka agar memberi makna kepada lingkungan mereka.[5]
            Menurut Kotler, persepsi adalah proses yang digunakan seorang individu untuk memilih, mengelola dan menafsirkan suatu input informasi untuk menciptakan suatu gambaran yang memiliki arti. Persepsi ini tidak hanya bergantung pada rangsangan fisik tetapi juga pada rangsangan yang berhubungan dengan lingkungan sekitar dan keadaan individu yang bersangkutan.[6] Ketiga poin inilah yang menjadi elemen dasar terjadinya sebuah persepsi.
            Dalam melakukan kegiatan pemilihan suatu produk, konsumen seringkali memilihnya berdasarkan pada persepsi mereka. Langkah ini mereka lakukan adalah dalam rangka menyederhanakan proses pemilihan tersebut. Persepsi konsumen terhadap suatu produk atau jasa memegang peranan penting dalam pengambilan keputusan untuk membeli sebuah produk atau memanfaatkan suatu jasa. Ketika seorang konsumen merasa sangat puas terhadap suatu produk atau layanan jasa, maka perilaku membeli produk atau menggunakan jasa tersebut mungkin akan terjadi lagi.[7]
Little Graham mengemukakan bahwa untuk memahami persepsi ada pertanyaan fundamental yang perlu diperhatikan yaitu:[8]
- Bagaimana realitas eksternal mempengaruhi manusia?
- Apa langkah-langkah di dalam pengaruh tersebut?
- Bagaimana pengaruh tersebut dapat menjadi konsepsi?
Dari pertanyaan-pertanyaan dan definisi-definisi yang telah disebutkan di atas, maka persepsi dapat dipahami sebagai suatu proses dari manusia untuk memahami lingkungan sekitarnya. Karena persepsi merupakan proses yang sangat subyektif dan selektif, maka bisa saja masing-masing orang melihat suatu obyek yang sama namun diinterpretasikan secara berbeda. Hal ini tergantung pada kebutuhan masing-masing individu, nilai-nilai obyek yang dipersepsi, dan pengalaman masing-masing.[9]
  1. Proses Perseptual
Seleksi perseptual terjadi ketika konsumen menangkap dan memilih stimulus berdasarkan pada psikologis set yang dimiliki. Psikologis set yaitu berbagai informasi yang ada dalam memori konsumen. Sebelum seleksi persepsi terjadi, terlebih dahulu stimulus harus mendapat perhatian dari konsumen. Oleh karena itu, dua proses yang termasuk ke dalam definisi seleksi adalah perhatian (attention) dan persepsi selektif (selective perception).[10]

Gambar 1.2
Skema Proses Perseptual
 






Sumber: Michael R.Solomon, Consumer Behavior,1996.
Perhatian yang dilakukan oleh konsumen dapat terjadi secara sengaja atau tidak sengaja. Perhatian yang dilakukan secara sengaja adalah disebut juga sebagai voluntary attention, yaitu terjadi ketika konsumen secara aktif mencari informasi yang mempunyai relevansi pribadi. Persepsi selektif terjadi ketika konsumen melakukan voluntary attention. Ketika konsumen mempunyai keterlibatan yang tinggi terhadap suatu produk, maka pada saat itu konsumen bisa disebut melakukan proses perhatian selektif (selective attention).
Proses perhatian selektif terjadi karena dengan mempunyai keterlibatan yang tinggi terhadap suatu merek produk, berarti konsumen telah secara aktif mencari informasi mengenai produk itu dari berbagai sumber. Dengan demikian, perhatian selektif hanya terjadi pada produk-produk yang dikonsumsi berdasarkan keterlibatan yang tinggi.
Selain konsumen melakukan perhatian secara sengaja, konsumen juga melakukan perhatian secara tidak sengaja (involuntary attention). Involuntary attention terjadi ketika dipaparkan kepada konsumen sesuatu yang menarik, mengejutkan, menantang atau sesuatu yang tidak diperkirakan, yang tidak ada relevansinya dengan tujuan atau kepentingan konsumen. Stimuli dengan ciri- ciri di atas secara otomatis akan mendapat tanggapan konsumen.
Perhatian dari konsumen, baik yang berupa voluntary attention maupun yang berupa involuntary attention, kedua-duanya memerlukan alokasi kapasitas kognitif dari konsumen terhadap stimulus tertentu. Tanpa hal tersebut, maka proses yang terjadi hanya terhenti pada perhatian saja. Karenanya, proses perseptual juga perlu menginterpretasi stimulus. Inilah yang dikenal dengan istilah perceptual encoding. Proses ini terdiri dari dua tahap utama, yaitu:[11]
a.       Feature analysis, merupakan tahap awal di mana penerima pesan melihat ciri dasar (basic feature) dari stimulus (seperti ukuran, bentuk, warna, dan angle).
b.      Active analysis, tidak hanya melakukan “pemeriksaan” terhadap ciri-ciri fisik. Konteks atau situasi di mana informasi diterima mempunyai peran penting dalam menentukan apa yang diterima dan diinterpretasikan, atau dengan kata lain, dalam menentukan arti apa yang diperoleh. Interpretasi dihasilkan dari usaha mengkombinasikan ciri-ciri stimulus dengan ekspektasi yang semestinya sesuai dengan konteks yang diinginkan.
Pemahaman konsumen mengenai stimulus pemasaran ditentukan oleh feature dari stimulus serta karakteristik konsumen itu sendiri. Ekspektasi, kebutuhan, sifat, pengalaman masa lalu, dan sikap terhadap obyek stimulus, seluruhnya memainkan peran penting dalam menentukan persepsi konsumen.
  1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi
Persepsi tidaklah muncul begitu saja, akan tetapi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Robbins, faktor-faktor yang dapat membentuk atau justru memutarbalikkan persepsi seseorang adalah:[12]
    1. Pelaku Persepsi(perceiver)
Bila seseorang individu memandang pada suatu target dan mencoba menafsirkan apa yang dilihatnya, penafsiran itu sarat dipengaruhi oleh karakteristik-karakteristik pribadi dari perilaku persepsi individual tersebut. Di antara karakteristik pribadi yang lebih relevan mempengaruhi pelaku persepsi adalah sikap, motif, kepentingan atau minat, pengalaman masa lalu, dan pengharapan (ekspektasi).
    1. Target
Karakteristik-karakteristik dalam target yang akan diamati dapat mempengaruhi apa yang dipersepsikan. Gerakan, bunyi, ukuran, dan atribut-atribut lain dari target membentuk cara kita memandangnya. Karena target tidak dipandang dalam keadaan terpencil, hubungan suatu target dengan latar belakangnya mempengaruhi persepsi, seperti kecenderungan kita untuk mengelompokkan benda-benda yang berdekatan atau yang mirip.
    1. Situasi
Adalah konteks di mana kita melihat objek-objek atau peristiwa- peristiwa. Unsur-unsur dalam lingkungan sekitar mempengaruhi persepsi kita. Sekali lagi, situasi dapat mempengaruhi persepsi dan perhatian, seperti lokasi, cahaya, panas, atau setiap jumlah faktor situasional.
Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi tersebut di atas dapat digambarkan dalam skema berikut:
Gambar 1.3
Skema Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi
 







Sumber: Stephen P. Robbins, Organizational Behavior, 2001
Sementara itu, Solomon menyatakan bahwa persepsi seorang konsumen atas berbagai stimulus yang diterimanya dipengaruhi oleh karakteristik yang dimilikinya. Beberapa karakteristik yang mempengaruhi persepsi konsumen adalah:[13]
a.       Membedakan stimulus
Satu hal yang sangat penting bagi pemasar adalah mengetahui bagaimana konsumen bisa membedakan perbedaan antara dua stimuli atau lebih. Apakah konsumen merasakan perbedaan merek berdasarkan rasa, perabaan, harga dari bentuk kemasan produk misalnya, agar suatu merek produk bisa dibedakan dengan merek produk lainnya.
b.      Tingkat ambang batas (threshold level)
Kemampuan konsumen untuk mendeteksi perbedaan dalam suara, cahaya, bau atau stimuli yang lainnya, ditentukan oleh tingkat ambang batasnya (threshold level). Ada dua jenis threshold, yaitu:
1. Absolute threshold, merupakan jumlah rangsangan minimum yang dapat dideteksi oleh channel inderawi.
2. Differential threshold, merupakan kemampuan sistem inderawi untuk mendeteksi atau membedakan antara dua stimuli. Differential threshold menentukan tingkat ambang batas dua stimuli yang bisa ditangkap oleh konsumen.
c.       Persepsi bawah sadar (subliminal perception)
Pemasar selalu berusaha menciptakan pesan di atas tingkat ambang batas kesadaran konsumen (consumer level threshold). Para peneliti menemukan bahwa konsumen sebenarnya mampu memberikan respons atas informasi ataupun pesan yang datang pada bawah sadarnya. Artinya, ketika konsumen dirangsang oleh suatu pesan, sebenarnya konsumen tidak menyadari akan keberadaan pesan tersebut, namun alam bawah sadarnya mampu menangkapnya. Dengan demikian stimulus (pesan) tersebut di bawah tingkat ambang batas kesadaran konsumen. Kemampuan konsumen memberikan tanggapan terhadap stimulus yang berada di bawah kesadaran atau berada di bawah ambang batas kesadarannya disebut persepsi subliminal (subliminal perception).
d.      Tingkat adaptasi
Satu konsep yang berkaitan erat dengan ambang batas absolut (absolute threshold) adalah tingkat adaptasi. Hal ini terjadi ketika konsumen sudah merasa terbiasa dan kemudian tidak mampu lagi, maka ketika itu juga ambang batas absolutnya berubah. Tingkat adaptasi terjadi ketika konsumen tidak lagi memperhatikan stimulus yang berulang-ulang.
e.       Generalisasi stimulus
Generalisasi terjadi ketika konsumen melihat dua stimulus atau lebih yang mempunyai kesamaan (mempunyai hubungan yang dekat/contiguity), dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya, oleh karena itu dapat disubstitusikan
Selain dari beberapa pendapat di atas, Bimo Walgito yang memandang persepsi dari sisi psikologis, membagi faktor yang mempengaruhinya pada dua hal, yaitu:[14]
a)      Faktor internal, meliputi perasaan, pengalaman, kemampuan berpikir, kerangka acuan dan aspek-aspek lain dalam diri individu.
b)      Faktor eksternal, meliputi:
- Stimulus yang diterima individu melalui proses penginderaan terhadap objek
- Lingkungan atau situasi khususnya yang melatarbelakangi stimulus


[1]Kasmir, SE, MM. Bank dan Lembaga Keuangan lainya. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada 2003, hal 23.
[2]Heri Sudarsono, Bank dan Lenbaga Keuangan yariah. Yogyakarta : EKONISIA Kampus Fakultas Ekonomi UII. 2003, hal 40.

[3]Winardi, J. Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen.(Jakarta:PT.Raja Grafindo,2004).hal 203-204
[4] Gerungan, WA. Psikologi Sosial.( Bandung: Eresco, 1991). hal 35.
[5] Stephen P Robbins.  Organizational Behavior. 9th  edition (Prentice-Hall International, 2001), hal, 88.
[6] Philip, Kotler. Marketing Management: Analysis, Planning, Implementation and Control, 1k1thoendistioun (NeewnJersey: Prentice-Hall International Inc., 2003) hal. 197
[7]Engel, James F., Roger D. Blackwell, Paul W. Miniard, Consumer Behavior, 8th edition
(Orlando Florida USA: The Dryden Press Harcourt Brace College Publisher, 1995), hal. 39.
[8]Little, Graham R., A Theory of Perception, dari www.grlphilosophy.co.nz/paper1.htm., hal 4.
[9]Schiffman, Leon G, & Kanuk, Leslie Lazar, Consumer Behavior, 8th edition (New Jersey: Pearson Prentice Hall, 2004), hal. 158
[10] Michael R. Solomon. Consumer Behavior: Buying, Having, and Being, 3t h edition (New
Jersey: Prentice-Hall International, 1996), hal. 56.
[11]Ibid.  hal. 70.
[12] Stephen P Robbins, Organizational Behavior, ……. , hal. 126
[13]Michael R. Solomon, Consumer Behavior, ……. , hal. 67.
[14]Bimo Walgito, Psikologi Sosial (Suatu Pengantar), (Yogyakarata: Andi Offset, 1990), hal. 128.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar