Rabu, 31 Juli 2019

Definisi Akad menurut Ekonomi Islam


A. Definisi  Akad menurut Ekonomi Islam
Istilah akad dalam hukum Indonesia disebut perjanjian, sedangkan dalam istilah hukum Islam disebut ”akad”. Kata akad berasal dari kata al-aqd, yang berarti mengikat, menyambung atau menghubungkan (ar-rabt).[1]
Akad (ikatan, keputusan atau penguatan) atau perjanjian atau kesepakatan atau transaksi dapat diartikan sebagai komitmen yang terbingkai dengan nilai-nilai syari’ah. Dalam istilah fiqh akad secara umum berarti sesuatu yang menjadi tekad seseorang untuk melaksanakan, baik yang munculdari satu pihak, seperti wakaf, talak, dan sumpah, maupun yang muncul dari dua pihak, seperti jual beli, sewa, wakalah dan gadai. [2]
Secara khusus akad berarti keterkaitan antara Ijab (pernyataan penawaran /pemindahan pemilikan ) dan qabul ( pernyataan penerimaan kepemilikan) dalam lingkup yang disyari’atkan dan berpengaruh pada sesuatu. 
Menurut Wahbah Zuhaili definisi akad secara Etimologi :
الربط بين أطراف الشئ سواء أكان ربطا حسيا ام معنويا من جانب اومن جانبين[3]      
Ikatan antara dua perkara, baik ikatan secara nyata maupun ikatan secara maknawi, dari satu segi maupun dari dua segi.
Pengertian akad secara bahasa dapat dipahami bahwa akad merupakan suatu perikatan atau perjanjian antara seseorang dengan orang lain terhadap suatu barang/ benda. Kemudian apabila diperhatikan definisi akad secara istilah atau Terminologi  ada beberapa pendapat  :
      Menurut Syamsul Anwar bahwa akad adalah pertemuan ijab dan kabul sebagai pernyataan kehendak dua pihak atau lebih untuk melahirkan suatu akibat hukum pada objeknya.[4] Akad juga bermakna perikatan yang mempunyai hubungan timbal balik antara seseorang dengan orang lain dan perikatan itu jelas mempunyai objek terhadap suatu benda atau barang. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibn Abidin :
ارتبا ط ايجا ب بقبول على وجه مشروع يثبت اثره فى محله  [5]  
Perikatanyang ditetapkan dengan ijab kabul berdasarkan ketentuan syara’ yang berdampak pada objeknya.
Juga akad mempunyai definisi :
تعلق كلام احدالعاقدين بالأخرشرعا على وجه يظهر أثره فى محلى[6]
Pengaitan ucapan salah seorang yang akad dengan yang lainya secara syara’ pada segi yang tanpak dan berdampak pada objeknya.

Wahbah Zuhaili membagi definisi akad kepada dua bahagian yakni pengertian akad secara umum dan secara khusus. Pengertian akad secara umum adalah akad secara arti luas hampir sama dengan pengertian akad dari segi bahasa menurut pendapat ulama Syafi’iyah, Malikiyah, dan Hanabilah, yaitu :
كل ما عزم المرء على فعله سواء صدر بارادة منفرادة كالوقف والإبراء
والطلاق واليمين أم احتاج الى ارادتين فى إنشا ئه كالبيع والإيجار
والتّوكيل والرهن.  [7]
Segala sesuatu yang dikerjakan oleh seseorang berdasarkan keinginanya sendiri, seperti wakaf, talak, pembebasan, atau sesuatu yang pembentukannya mebutuhkan keinginan dua orang seperti jual beli, perwakilan dan gadai.

 Beberapa definisi akad di atas dapat diambil suatu pemahaman bahwa akad adalah suatu perikatan atau perjanjian antara seseorang dengan orang lain atau beberapa pihak terhadap suatu benda/ barang dengan memakai ijab (penawaran) dan qabul (penerimaan) dalam suatu waktu yang disepakati secara bersama-sama. Jadi akad tersebut adanya keinginan dari dua pihak atau lebih ingin mengikatkan diri terhadap sesuatu benda yang menjadi kebutuhan mereka.


[1]   Ahmad Abu al-Fath, Kitab al-muamalat fi asy-Syari’ah al-Islamiyah wa al-qawninal-Mishriyyah, (Mesir : Matba’ah al-Busfir, 1913), Jilid I, h.139. Lihat juga Asy-Syakani ,Fath Qadir, (Mesir : Mustafa al-Babii al-Halabi,1964), Jilid II, h. 4
[2]  Ascarya, Akad dan Produk Bank Syari’ah, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2008), h. 35
[3] . Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adilatu, (Damsyik, Dar al- Fikr,1989), Juz IV, h. 80. lihat juga : Rachmat Syafei, Fiqh Muamalah untuk IAIN, STAIN, PTAIS dan Umum, (Bandung, CV. Pustaka Setia, 2001), h. 43
[4]  Syamsul Anwar,  Hukum Perjanjian Syari’ah studi tentang teori akad dalam fikih Muamalat,  ( Jakarta :PT. Raja Grafindo Persada, 2007), h. 68 
[5] Ibnu Abidin , Radd al-Mukhtar Syarh tanwir al-Abshar, (Mesir, al Munirah,tth), Juz. II, h. 355. atau lihat juga Rahmat, Syafi’I, Fiqh Muamalah untuk IAIN, STAIN, PTAIS, dan Umum, (Bandung, CV. Pustaka setia, 2001), h.44 
[6]  Ibnu Abidin, Ibid,  h. 356
[7] Wahbah al-Zuhaili, Loc.cit, h. 80



Tidak ada komentar:

Posting Komentar