A.
Analisis
Laporan Keuangan
1.
Pengertian
dan Sifat-sifat Analisis Laporan Keuangan
Sebelum berbicara
mengenai analisis laporan keuangan, terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai
laporan keuangan itu sendiri.pada dasarnya setiap perusahaan memerlukan sistem
pencatatan dalam pembukuan (akuntansi) untuk mengetahui aktivitas usaha dan
hasil usaha yang telah dicapai atau sebagai bahan untuk pertanggungjawaban.[1] Islam menggariskan
adanya suatu pertanggung jawaban, sebagaimana firman Allah dalam surat An-nahl
ayat 93, yang berbunyi:
ö£`è=t«ó¡çFs9ur $£Jtã óOçFZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÒÌÈ
“ ......Dan
sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan”. (QS.
An Nahl: 93)
Perusahaan besar membutuhkan sistem
pembukuan yang komplek, sedangkan perusahaan kecil cukup dengan sistem
pembukuan yang sederhana namun informatif. Proses pekerjaan akuntansi merupakan
sebuah siklus yang dimulai dari pembuatan bukti sampai penyusunan laporan
keuangan. Laporan keuangan menyajikan prestasi historis perusahaan dan
memberikan dasar bersama dengan analisis bisnis dan ekonomi bagi proyeksi dan
peramalan masa depan.[2]
Untuk melihat kondisi dan perkembangan
keuangan suatu perusahaan atau bank biasanya seorang manajer keuangan menyusun
laporan keuangan yang merupakan siklus terakhir dari proses akuntansi
(pencatatan). Islam sangat menekankan pentingnya suatu pencatatan (akuntansi),
sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 282 yang berbunyi:
$ygr'¯»t úïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sÎ) LäêZt#ys? AûøïyÎ/ #n<Î) 9@y_r& wK|¡B çnqç7çFò2$$sù .........
“Hai orang yang beriman, apabila kamu
bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu
menulisnya.....”. (QS. Al Baqarah 282)
Laporan keuangan menggambarkan
kejadian-kejadian atau segala transaksi yang terjadi di suatu bank yang
kemudian digunakan untuk menginterpretasi atau menganalisis terhadap data
keuangan tersebut atau merupakan ikhtisar mengenai keadaan keuangan suatu bank
pada suatu periode tertentu.[3]
Dalam laporan keuangan termuat informasi
mengenai jumlah kekayaan (assets) dan jenis-jenis kekayaan yang
dimiliki, kewajiban-kewajiban (hutang) yang dimiliki, baik jangka panjang
maupun jangka pendek serta ekuitas (modal) yang dimilikinya. Informasi ini
termuat dalam neraca. Kemudian laporan keuangan juga memberikan informasi
tentang hasil-hasil usaha yang diperoleh perusahaan dalam suatu periode
tertentu dan biaya-biaya atau beban yang
dikeluarkan untuk memperoleh hasil tersebut. Informasi ini akan termuat dalam
laporan laba rugi.[4]
Dari laporan keuangan akan tergambarkan
kondisi keuangan suatu perusahaan sehingga memudahkan untuk menilai kinerja
manajemen perusahaan. Penilaian kinerja perusahaan akan menjadi patokan dalam
menilai apakah manajemen berhasil atau tidak dalam menjalankan kebijakan yang
telah digariskan perusahaan.[5]
Menurut Martono, laporan keuangan (financial statement) merupakan iktisar
mengenai keadaan keuangan suatu bank pada suatu periode tertentu.[6]
Sedangkan menurut Dwi Prastowo, laporan keuangan merupakan objek dari analisis
laporan keuangan, oleh karena itu perlu memahami latar belakang penyusunan dan
penyajian laporan keuangan itu sendiri.[7]
Menurut Kasmir, laporan keuangan bank
menunjukan kondisi bank secara keseluruhan. Dari laporan keuangan ini akan
terbaca bagaimana kondisi bank sesungguhnya, termasuk kelemahan dan kekuatan
yang dimiliki. Laporan ini juga menunjukkan kinerja manajemen bank selama satu
periode. Keuntungan dengan membaca laporan ini pihak manjemen dapat memperbaiki
kelemahan yang ada serta mempertahankan kekuatan yang dimilki.[8]
Menurut Sofyan Syafri Harahap, dimana
laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu
perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu.[9]
S. Munawir dalam bukunya analisis
laporan keuangan mengutip pendapat Myer yang menyatakan bahwa laporan keuangan
adalah:
“Dua daftar
yang disusun oleh Akuntan pada akhir periode untuk suatu perusahaan. Kedua
daftar itu adalah daftar neraca atau daftar posisi laporan keuangan dan daftar
pendapatan atau daftar laba rugi. Pada
waktu akhir-akhir ini sudah menjadi kebiasaan bagi perseroan-perseroan untuk
menambah daftar ketiga yaitu daftar suplus atau laba yang tidak dibagikan (laba
ditahan)”.[10]
Dalam Standar Akuntansi Keuangan
disebutkan bahwa laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan
keuangan. Laporan keuangan yang lengkap meliputi laporan keuangan atas kegiatan
komersial dan atau sosial. Laporan keuangan kegiatan komersial meliputi neraca,
laporan rugi laba, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan
dalam bebagai cara seperti, misalnya. Sebagai laporan arus kas, atau laporan
perubahan ekuitas), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang
merupakan bagian integral dari laporan keuangan. Laporan keuangan atas kegiatan
sosial meliputi laporan sumber dan penggunaan dana zakat, dan laporan sumber dan
penggunaan dana kebajikan. Disamping itu juga termasuk, skedul dan informasi
tambahan yang berkaitan dengan laporan tersebut, misalnya, informasi keuangan
segmen industri dan geografis.[11]
Analisis laporan
keuangan terdiri dari dua kata yaitu analisis dan laporan keuangan. Analisis
adalah memecahkan atau menguraikan suatu unit menjadi berbagai unit terkecil,
sedangkan laporan keuangan adalah neraca, laba/rugi, dan arus kas (dana). Kalau
dua pengertian ini digabungkan, analisis laporan keuangan berarti:
“Menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit
informasi yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan
atau mempunyai makna antara satu dengan yang lain baik antara data kuantitatif
maupun data non-kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan
lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan yang
tepat”.[12]
Dari definisi ini
jelas bahwa analisis laporan keuangan merupakan suatu proses yang penuh
pertimbangan dalam rangka membantu mengevaluasi posisi keuangan dan hasil
operasi perusahaan pada masa sekarang dan masa lalu, dengan tujuan utama untuk
menentukan estimasi dan prediksi yang paling mungkin mengenai kondisi dan
kinerja perusahaan pada masa mendatang.
Berdasarkan
defenisis mengenai laporan keuangan tersebut, dapat dikemukakan sifat-sifat laporan
keuangan sebagai berikut:[13]:
a. Fokus laporan adalah Laporan Laba Rugi, Neraca, Arus Kas, yang
merupakan akumulasi transaksi dari kejadian historis, dan penyebab terjadinya
dalam suatu perusahaan
b. Prediksi, analisis harus mengkaji implikasi kejadian yang sudah
berlaku terhadap dampak dan prospek perkembangan keuangan perusahaan di masa
yang akan datang
c. Dasar analisis adalah laporan keuangan yang memiliki sifat dan
prinsip tersendiri sehingga hasil analisis sangat tergantung pada kualitas
laporan ini. Penguasaan pada sifat akuntansi, prinsip akuntansi, sangat
diperlukan dalam menganalisis laporan keuangan
2.
Tujuan
Analisis Laporan Keuangan
Tujuan analisis laporan keuangan menurut
Bernstein dalam Sofyan Syafri Harahap adalah sebagai berikut:
a. Screening
Analisis
dilakukan dengan melihat secara analitis laporan keuangan dengan tujuan untuk
memilih kemungkinan investasi atau merger.
b. Forecasting
Analisis
digunakan untuk meramalkan kondisi keuangan perusahaan di masa yang akan
datang.
c. Diagnosis
Analisis
dimaksudkan untuk melihat kemungkinan adanya masalah-masalah yang terjadi baik
dalam manajemen, operasi, keuangan atau masalah lain.
d. Evaluation
Analisis
dilakukan untuk menilai prestasi manajemen, operasional, efisiensi, dan
lain-lain.
Dalam arti yang lebih luas dapat
dinyatakan bahwa analisis laporan keuangan bertujuan untuk meramalkan masa
depan dan mengantisipasi berbagai resiko yang mungkin akan terjadi dimasa
datang. Rasio-rasio keuangan dirancang untuk membantu kita mengevaluasi suatu
laporan keuangan.[14]
[1] M. Ismail Yusanto dan M. Karebet Widjaja Kusuma, Mengagas Bisnis Islam, (Jakarta : Gema Insani
Press, 2002), h. 182
[2] Ibid.,
[3] Martono, Bank dan Lembaga
Keuangan Lain, (Yogyakarta: EKONISIA, 2002), h. 62
[4] Kasmir dan Jakfar, Studi Kelayakan Bisnis, (Jakarta : Kencana, 2005),
h. 165-166
[5] Jhon D. Martin, Dasar-Dasar Manajemen
Keuangan, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1999), h. 23
[6] Martono, op.cit.,
[7] Dwi Prastowo dkk, Analisis
Laporan Keuangan, (Yogyakarta: YIPP AMP YKPN, 2005), h. 5
[8] Kasmir, op.cit., h. 239
[9] Sofyan Syafri Harahap, Analisis
Kritis atas laporan Keuangan, (Jakarta :
PT. Raja Garfindo Persada, 2008), h. 5
[10] S. Munawir, Analisis Laporan Keuangan, (Yogyakarta : PT. Liberty, 2004), h. 5
[11] Ikatan Akuntan Indonesia ,
Standar Akuntasi keuangan, (Jakarta : Salemba Empat,
2007), h. 1-2
[12] Sofyan Syafri Harahap, op.cit., h.
189-190
[13] Sofyan Syafri Harahap, op.cit., h. 194
[14] Brigham dan Houston, Fundamentals of Financial Manajemen, edisi
ke 10, diterjemahkan oleh Ali Akbar Yulianto, (Jakarta: Salemba Empat, 2006),
h. 94
Tidak ada komentar:
Posting Komentar