Rabu, 31 Juli 2019

Analisis Laporan Keuangan


A.    Analisis Laporan Keuangan
1.      Pengertian dan Sifat-sifat Analisis Laporan Keuangan
Sebelum berbicara mengenai analisis laporan keuangan, terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai laporan keuangan itu sendiri.pada dasarnya setiap perusahaan memerlukan sistem pencatatan dalam pembukuan (akuntansi) untuk mengetahui aktivitas usaha dan hasil usaha yang telah dicapai atau sebagai bahan untuk pertanggungjawaban.[1] Islam menggariskan adanya suatu pertanggung jawaban, sebagaimana firman Allah dalam surat An-nahl ayat 93, yang berbunyi:
ö£`è=t«ó¡çFs9ur $£Jtã óOçFZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÒÌÈ
“ ......Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. An Nahl: 93)

Perusahaan besar membutuhkan sistem pembukuan yang komplek, sedangkan perusahaan kecil cukup dengan sistem pembukuan yang sederhana namun informatif. Proses pekerjaan akuntansi merupakan sebuah siklus yang dimulai dari pembuatan bukti sampai penyusunan laporan keuangan. Laporan keuangan menyajikan prestasi historis perusahaan dan memberikan dasar bersama dengan analisis bisnis dan ekonomi bagi proyeksi dan peramalan masa depan.[2]
Untuk melihat kondisi dan perkembangan keuangan suatu perusahaan atau bank biasanya seorang manajer keuangan menyusun laporan keuangan yang merupakan siklus terakhir dari proses akuntansi (pencatatan). Islam sangat menekankan pentingnya suatu pencatatan (akuntansi), sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 282 yang berbunyi:
$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) LäêZtƒ#ys? AûøïyÎ/ #n<Î) 9@y_r& wK|¡B çnqç7çFò2$$sù .........
 Hai orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menulisnya.....”. (QS. Al Baqarah 282)

Laporan keuangan menggambarkan kejadian-kejadian atau segala transaksi yang terjadi di suatu bank yang kemudian digunakan untuk menginterpretasi atau menganalisis terhadap data keuangan tersebut atau merupakan ikhtisar mengenai keadaan keuangan suatu bank pada suatu periode tertentu.[3]
Dalam laporan keuangan termuat informasi mengenai jumlah kekayaan (assets) dan jenis-jenis kekayaan yang dimiliki, kewajiban-kewajiban (hutang) yang dimiliki, baik jangka panjang maupun jangka pendek serta ekuitas (modal) yang dimilikinya. Informasi ini termuat dalam neraca. Kemudian laporan keuangan juga memberikan informasi tentang hasil-hasil usaha yang diperoleh perusahaan dalam suatu periode tertentu dan biaya-biaya  atau beban yang dikeluarkan untuk memperoleh hasil tersebut. Informasi ini akan termuat dalam laporan laba rugi.[4]
Dari laporan keuangan akan tergambarkan kondisi keuangan suatu perusahaan sehingga memudahkan untuk menilai kinerja manajemen perusahaan. Penilaian kinerja perusahaan akan menjadi patokan dalam menilai apakah manajemen berhasil atau tidak dalam menjalankan kebijakan yang telah digariskan perusahaan.[5]
Menurut Martono, laporan keuangan (financial statement) merupakan iktisar mengenai keadaan keuangan suatu bank pada suatu periode tertentu.[6] Sedangkan menurut Dwi Prastowo, laporan keuangan merupakan objek dari analisis laporan keuangan, oleh karena itu perlu memahami latar belakang penyusunan dan penyajian laporan keuangan itu sendiri.[7]
Menurut Kasmir, laporan keuangan bank menunjukan kondisi bank secara keseluruhan. Dari laporan keuangan ini akan terbaca bagaimana kondisi bank sesungguhnya, termasuk kelemahan dan kekuatan yang dimiliki. Laporan ini juga menunjukkan kinerja manajemen bank selama satu periode. Keuntungan dengan membaca laporan ini pihak manjemen dapat memperbaiki kelemahan yang ada serta mempertahankan kekuatan yang dimilki.[8]
Menurut Sofyan Syafri Harahap, dimana laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu.[9]
S. Munawir dalam bukunya analisis laporan keuangan mengutip pendapat Myer yang menyatakan bahwa laporan keuangan adalah:
“Dua daftar yang disusun oleh Akuntan pada akhir periode untuk suatu perusahaan. Kedua daftar itu adalah daftar neraca atau daftar posisi laporan keuangan dan daftar pendapatan atau daftar laba  rugi. Pada waktu akhir-akhir ini sudah menjadi kebiasaan bagi perseroan-perseroan untuk menambah daftar ketiga yaitu daftar suplus atau laba yang tidak dibagikan (laba ditahan)”.[10]

Dalam Standar Akuntansi Keuangan disebutkan bahwa laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap meliputi laporan keuangan atas kegiatan komersial dan atau sosial. Laporan keuangan kegiatan komersial meliputi neraca, laporan rugi laba, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam bebagai cara seperti, misalnya. Sebagai laporan arus kas, atau laporan perubahan ekuitas), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan. Laporan keuangan atas kegiatan sosial meliputi laporan sumber dan penggunaan dana zakat, dan laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan. Disamping itu juga termasuk, skedul dan informasi tambahan yang berkaitan dengan laporan tersebut, misalnya, informasi keuangan segmen industri dan geografis.[11]
Analisis laporan keuangan terdiri dari dua kata yaitu analisis dan laporan keuangan. Analisis adalah memecahkan atau menguraikan suatu unit menjadi berbagai unit terkecil, sedangkan laporan keuangan adalah neraca, laba/rugi, dan arus kas (dana). Kalau dua pengertian ini digabungkan, analisis laporan keuangan berarti:
“Menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau mempunyai makna antara satu dengan yang lain baik antara data kuantitatif maupun data non-kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat”.[12]

Dari definisi ini jelas bahwa analisis laporan keuangan merupakan suatu proses yang penuh pertimbangan dalam rangka membantu mengevaluasi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan pada masa sekarang dan masa lalu, dengan tujuan utama untuk menentukan estimasi dan prediksi yang paling mungkin mengenai kondisi dan kinerja perusahaan pada masa mendatang.
Berdasarkan defenisis mengenai laporan keuangan tersebut, dapat dikemukakan sifat-sifat laporan keuangan sebagai berikut:[13]:
a.    Fokus laporan adalah Laporan Laba Rugi, Neraca, Arus Kas, yang merupakan akumulasi transaksi dari kejadian historis, dan penyebab terjadinya dalam suatu perusahaan
b.    Prediksi, analisis harus mengkaji implikasi kejadian yang sudah berlaku terhadap dampak dan prospek perkembangan keuangan perusahaan di masa yang akan datang
c.    Dasar analisis adalah laporan keuangan yang memiliki sifat dan prinsip tersendiri sehingga hasil analisis sangat tergantung pada kualitas laporan ini. Penguasaan pada sifat akuntansi, prinsip akuntansi, sangat diperlukan dalam menganalisis laporan keuangan
2.      Tujuan Analisis Laporan Keuangan
Tujuan analisis laporan keuangan menurut Bernstein dalam Sofyan Syafri Harahap adalah sebagai berikut:
a.      Screening
Analisis dilakukan dengan melihat secara analitis laporan keuangan dengan tujuan untuk memilih kemungkinan investasi atau merger.
b.      Forecasting
Analisis digunakan untuk meramalkan kondisi keuangan perusahaan di masa yang akan datang.
c.       Diagnosis
Analisis dimaksudkan untuk melihat kemungkinan adanya masalah-masalah yang terjadi baik dalam manajemen, operasi, keuangan atau masalah lain.
d.      Evaluation
Analisis dilakukan untuk menilai prestasi manajemen, operasional, efisiensi, dan lain-lain.
Dalam arti  yang lebih luas dapat dinyatakan bahwa analisis laporan keuangan bertujuan untuk meramalkan masa depan dan mengantisipasi berbagai resiko yang mungkin akan terjadi dimasa datang. Rasio-rasio keuangan dirancang untuk membantu kita mengevaluasi suatu laporan keuangan.[14]


[1] M. Ismail Yusanto dan M. Karebet Widjaja Kusuma, Mengagas Bisnis Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 2002), h. 182
[2] Ibid.,
[3] Martono, Bank dan Lembaga Keuangan Lain, (Yogyakarta: EKONISIA, 2002), h. 62
[4] Kasmir dan Jakfar, Studi Kelayakan Bisnis, (Jakarta: Kencana, 2005), h. 165-166
[5] Jhon D. Martin, Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1999), h. 23
[6] Martono, op.cit.,
[7] Dwi Prastowo dkk, Analisis Laporan Keuangan, (Yogyakarta: YIPP AMP YKPN, 2005), h. 5
[8] Kasmir, op.cit., h. 239
[9] Sofyan Syafri Harahap, Analisis Kritis atas laporan Keuangan, (Jakarta: PT. Raja Garfindo Persada, 2008), h. 5
[10]  S. Munawir, Analisis Laporan Keuangan, (Yogyakarta: PT. Liberty, 2004), h. 5
[11] Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntasi keuangan, (Jakarta: Salemba Empat, 2007), h. 1-2
[12] Sofyan Syafri Harahap, op.cit., h. 189-190
[13] Sofyan Syafri Harahap, op.cit., h. 194
[14] Brigham dan Houston, Fundamentals of Financial Manajemen, edisi ke 10, diterjemahkan oleh Ali Akbar Yulianto, (Jakarta: Salemba Empat, 2006), h. 94

Tidak ada komentar:

Posting Komentar